Showing posts with label belajar dari bangsa lain. Show all posts
Showing posts with label belajar dari bangsa lain. Show all posts

Kebangkitan Nasional adalah Kebangkitan Desa by Mr. Darmanto



Tulisan saya kutip dari Pak Darmato, karena saking terkesan sengaja saya posting di blog ini..supaya temen-temen bisa membaca. Jarang sekali tulisan-tulisan yang kayak gini, inspiratif dan ide-idenya tentang kemajuan negara dan bangsa.
Kebangkitan Nasional adalah Kebangkitan Desa

(Melalui Pemberdayaan Masyarakat untuk Kemandirian dan menempatkan pembangunan desa sebagai usaha Nation & Character Building)

Apakah kondisi desa sekarang ini akibat dari penjajahan oleh kaum munafik
sekaligus opportunis yang juga dari kalangan bangsa sendiri?,
atau korban salah sistem yang melahirkan  pembangunan yang salah arah ?.

Masihkah bangsa ini punya kaum pendidik-intelektual yang berhati nurani?,
atau kemana sajakah mereka sejak 17 Agustus 1945 sampai sekarang ?,
 jangan-jangan justru telah mendidik bangsa meninggalkan  jatidirinya ?.
           
Alkisah seekor kodok berada didalam panci yang berisi air dingin yang secara perlahan dipanasi. Alhasil karena terlena oleh kenikmatan hangatnya air, sehingga ketika air berangsur berubah semakin panas, sang kodok sudah tidak punya tenaga untuk meloncat keluar dari malapetaka dan terpaksa mati terebus didalam air mendidih.
            Makna dari cerita tersebut adalah: bahwa kenikmatan dapat membikin seseorang terlena dan tidak sigap mengantisipasi datangnya bencana.

            Desa di Indonesia sekarang ini pantas dikenal sebagai bagian NKRI yang belum ”Merdeka”, meskipun 17 Agustus 1945 sudah menjadi masa lalu, mengapa ?. Hal ini akibat dari salah kebijakan didalam konsep pembangunan nasional, yang penanganan terhadap desanya mengandalkan konsep ”kedermawaan” atau “charity” atau model sinterklas.
            Sementara ini desa masih identik dengan kebodohan, kemelaratan yang bermuara pada penderitaan ”Never Ending” bagi masyarakatnya. Sebetulnya desa merupakan sumber potensi, sumber inspirasi dan sumber spirit pembangunan, sehingga tidak salah sekiranya desa ditempatkan sebagai Pondasi (sebagai bottom structure) berdirinya bangunan NKRI.  Keberpihakan pembangunan dirasakan masih lebih condong ke kota (sebagai upper structure), nyaris justru semakin meningkatkan kesenjangan sosial yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas negara.
            Urbanisasi adalah bukti konkrit terjadinya kesenjangan antara desa-kota, yang dikhawatirkan akan berkembang menjadi sumber masalah pembangunan, bahkan eksistensi negara. Kebijakan yang tepat sangat diperlukan dengan menempatkan keseimbangan pembangunan desa-kota sebagai orientasi pembangunan tidak saja oleh pihak pemerintah namun juga para pemodalnya.
Dengan demikian kebangkitan desa merupakan kebangkitan kaum teraniaya, terlupakan dan terpinggirkan. Namun sebetulnya karena banyaknya, justru harus diakui sebagai Pemilik Negara, yang sejujurnya belum “merdeka”, masih dijajah kaum opportunis, berkedok nasionalis dan berlagak demokratis.
            Opportunisasinya melalui rekayasa pengetahuan sedemikian terjadi pembenaran “mindset” atas ketentuan/peraturan untuk melegitimasi sistem eksploitasi “orang pintar” terhadap “orang bodoh”, ”orang kaya” terhadap ”orang miskin”, yang kuat terhadap yang lemah, eksploitasi kota atas desa.
            Apakah Desa masa kini sedang kena hukuman seumur hidup? Kesalahannya apa?, apa karena bodoh?, apa karena dibutuhkan oleh orang-2 kota agar dapat melanggengkan kemakmurannya?, atau memang dibiarkan terpenjara oleh ”sistem korup” (produk kebijakan kolonial). Bagaimana mungkin orang kota yang faktanya lebih makmur justru mendapatkan subsidi jauh lebih besar dari orang desa. Contoh pada penyediaan air minum, infrastruktur, fasilitas pelayanan publik, bahkan itupun masih dibantu dengan peraturan untuk melindungi berlangsungnya sistem eksploitasi kepentingan orang kota terhadap desa.
            Senyatanya telah terjadi proses kanibalis, yang membikin keberadaan NKRI tersandera oleh sistem yang diciptakan para pemimpinnya yang anasionalis, sehingga berakibat terjadinya kesalahan kebijakan pembangunan desa . Hal ini dikhawatirkan akan menjadi pendorong terjadinya pembusukan semangat untuk maju yang akhirnya menjadikan pembangunan gagal total hanya menghasilkan manusia bodoh sekaligus miskin tanpa keberanian berkreasi. Sebagai bentuk ketidak adilan hal tersebut akan sangat membahayakan kelestarian keberadaan NKRI.

E dayohe teko, e jerengno kloso, e klasane bedah, e tambalen jadah, e jadahe mambu,
e pakakno asu, e asune mati, e kelekno kali, e kaline asat, e e e terus,
sampai melupakan persoalan pokoknya.

            Ungkapan tersebut diatas adalah suatu sindiran dari orang bijak dalam mengamati kebiasaan para pemimpin bangsa ketika menghadapi kegagalan penanganan masalah melalui pengalihan fokus perhatian.
            Didalam pemberdayaan masyarakat desa, pilihan profesi yang tepat dengan bantuan sistem pemasaran dengan business plan yang realistis dan berbasis “Community Development” kurang dikedepankan. Kehadiran program bantuan dengan niatan untuk memajukan desa masih bernuansa proyek dan menempatkan ukuran keberhasilannya dengan indikator tujuan proyek dan demi ataupun atas nama tertib administrasi. Manfaat atau outcome dari proyek justru kurang menjadi kepedulian.

Suatu bangsa dan negara dalam bahaya menghadapi kebangkrutan, ketika terbelah menjadi kota dan desa, kaya dan miskin, merdeka dan terjajah, maju dan terbelakang, yang kesemuanya mencerminkan adanya ketidakadilan, produk dari ketidak mampuan para pemimpin dan pemikirnya mengurus pendidikan kharakter bagi bangsanya. 
Dibelahan mana Perguruan Tinggi Panutan berada ?, jangan jangan justru masih menjadi bagian dari masalah nasional ?!.
Masih adakah keberanian dan kejujuran kita ?, masih pedulikah kita pada generas penerus kita?, silahkan merenung dan tunggulah hasil penilaian kinerja kita oleh generasi penerus kita. Mudah mudahan mereka tidak menilai kita sebagai generasi parasit bangsa, atau generasi tanpa guna, yang tidak mampu membangun kharakter bangsanya sendiri. Apakah kita akan menjadikan generasi penerus sekedar hanya sebagai bangsa penunggu tanah airnya sendiri yang telah dimiliki oleh bangsa lain ?.
Dibutuhkan keberanian berkata jujur dalam menjawab pertanyaan-2 tersebut diatas.

Lereng Merapi, 14Juli 2012
Darmanto
Pecinta Tanah Air


Bapak Darmanto

Negara kecil namun besar pengaruhnya..

Salam bagi semuanya. Di dunia ada yang menarik untuk kita pelajari. Banyak Bangsa-bangsa yang berdiri atas dasar perjuangan untuk mempertahankan dari negara yang lebih besar dan kuat. Kekuatan ini bisa diartikan kekuatan militer, ekonomi, budaya, kebudayaan dll. Banyak kategorinya... saya mencoba untuk menulis sebatas kebodohan saya. jika ada tambahan mohon di kasih masukan.
Negara yang paling mengagumkan menurut saya antara lain adalah :

A. Jalur Gaza (Palestine)
 Negara ini menurut saya, negara yang kuat dan tangguh. Bagaimana tidak, jalur gaza di wilayah palestine ini sekarang masih dalam penjajahan Israel. Hampir keseluruhan wilayah palestina di kuasai Israel, namun untuk wilayah jalur gaza, Israel di buat takut setengah mati. Selama bertahun-tahun wilayah Jalur Gaza tidak bisa ditaklukkan sejengkal tanah pun oleh Israel. Beda dengan wilayah tepi barat, semakin lama semakin menyusut. Wilayah Gaza yang luasnya seperti potongan ketas, dengan jumlah penduduk sekitar 2 jutaan ini ternyata sulit di taklukkan oleh Israel, dimana kekuatan militer israel yang lebih canggih peralatan tempurnya. Yang selalu di dukung oleh Amerika.
Ternyata ada beberapa hal yang dapat di ambil pelajaran dari negara palestina ini (Jalur Gaza tidak bisa ditaklukkan).
1. Negara Palestina (Jalur Gaza) menerapkan sistem ajaran islam dalam diberbagai sendi kehidupan. Artinya dijadikan pegangan hidup yang kuat dan berusaha untuk menerapkan baik di masyarakat, pemerintahan, ekonomi, budaya, pendidikan.Karena Islamlah sebagai agama yang di nyakini membawa kemajuan umat muslim
2.Masyarakat Jalur Gaza selalu mempelajari dan membaca. Bahkan berusaha untuk menghafal Alquran. Hampir rumah-rumah di gaza selalu terdengar lantunan ayat suci Alquran.
5. Mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW
3. Pantang untuk meminta-minta meskipun dalam keadaan sulit. Meskipun setiap hari terjadi gempuran oleh Israel yang meluluh lantakan bangunan rumahnya serta embargo ekonomi oleh Israel. Rakyat Palestina tidak meminta bantuan dari negara lain.
4. Mempunyai jiwa yang tangguh, berorientasi pendidikan:
Sebagi contoh Setelah di gempur oleh iSrael: sehari berikutnya kehidupan kehidupan berjalan dengan normal. Terlihat di Kampus Universitas Gaza. Masuk seperti biasanya (Universitas gaza terbaik se timur tengah nomor 2)
Mungkin itulah faktor-faktor yang membat Jalur Gaza sampai skerang belum bisa dikalahkan, insya allah nantinya justru Israel yang akan luluh lantak oleh para pejuang palestine di Jalur Gaza. Kita doakan bersama..

B. Singapura
 Singapura merupakan negara sekaligus ibu kota negara. Negara ini terletak di antara negara-negara yang mempunyai potensi yang luar biasa. Yaitu Malaysia, Indonesia. Selain kecil wilayahnya, singapura kecil sekali sumber daya alamnya. Namun dari keterbatsana, kekuranga ini, sebaliknya singapura malah menjadi negara yang lebih makmur dari negara-negara yang ada disekitarnya. Pendapatan negara tertinggi diantara negara-negara yang ada disekitarnya. lalu apa yang menyebabkan negara ini bisa maju...
1. Negara ini mempunyai jiwa-jiwa entrepeneur yang banyak. Singapura sadar bahwa negara minim SDA namun hidup di tengah-tengah negara yang SDA melimpah. Salah satu cara yaitu dengan menciptakan pengusaha-pengusaha sebanyak mungkin untuk menyokong ekonomi negaranya.
2. Pengelolaan negara terhadap aset-aset sangat baik. bahkan setiap warganya di haruskan untuk serta dalam investasi di dalam negaranya. Pegawai negeri Singapura setiap bulan ada potongan gaji, untuk diambil pada saat pensiun dalam bentuk pendirian perusahaan. Negara akan membantu untuk membuka usaha/investasi dengan potongan gaji. serta menyediakan tenaga ahli untuk membantu usaha bagi pensiunan pegawai negri. terbalik dengan orang indonesia
3. Pendidikan di Singapura sangatlah tingggi. negara mempunyai perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. Tingkat pendidikan warga singapura 96%.Bahkan universitas-universitas Singapura menempati range tinggi di Asia.
4. Memberikan pelayanan dan perlindungan yang baik terhadap warganya.Negara menjamin pelayanan publik kepada warganya diutamakan. Sebagai contoh Rumah sakit di Singapura sudah di atas negara2 di sekitarnya. Begitu juga Penerbangan Singapura pelayanannya sudah luar biasa, diatas Eropa.

C. Jepang
 Berikut anda bisa membaca referensi Bangsa Jepang


Komunitas Terdidik: Belajar dari Jepang

Belajar dari perekonomian Jepang


D. Korea selatan
 Korea selatanbisa di lihat pada link : Belajar dari Bangsa Korea Selatan





E. Swiss
Negara SWISS salah satu negara kecil di benua Eropa. Swiss yang tidak mempunyai  tentara, negara ini menjadi terkenal. Swiss adalah satu negara tujuan untuk menyimpan uang dari orang-orang kaya di dunia. Bank-bank di Swiss memberikan pelayanan danperlindungan bagi para milyader dunia untuk menyimpan uangnya/kekayaan di bank Swiss. Anda bisa bayangkan berapa trilyun dolar timbunan uang di Swiss. selain itu juga swiss terkenal dengan coklatnya terbaik di dunia. Di sanalah muncul perusahaan coklat yang terkenal di dunia. Selain coklat swis s juag terkenal dengan jam-jam bermerk terkenal.

SEKARANG HOW ABOUT INDONESIA
Indonesia


ANDA SEBAGAI WARGA INDONESIA, LAHIR DI INDONESIA TENTU MEMPUNYAI CARA SENDIRI UNTUK BANGKIT SEBAGAI BANGSA KUAT, MERDEKA DAN BERADAB JAUH DARI KORUPSI

Belajar dari Korea Selatan : Kesuksesan Industri-Ekonomi Korea

Tepat 2 hari setelah Korea Selatan merdeka, Indonesia juga memproklamir kemerdekaan setelah 2 kota besar Jepang dijatuhi bom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945. Sesaat setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, Belanda dan sekutu (Inggris, Amerika Serikat dan cs) secara berusaha menjajah kembali wilayah Indonesia. Pada saat yang sama, terjadi pemberontakan diberbagai daerah di nusantara. Hal yang sama terjadi di Korea Selatan. Tidak lama setelah merdeka, Korea mengalami perang saudara yang disulut oleh kepentingan ideologi asing. Perang Korea pada 1950-1953 yang menewaskan hampir 2.5 juta jiwa menghancurkan perekonomian dan stabilitas negara yang baru berdiri.
Merdeka Pada Tahun yang Sama, Tapi Hasilnya Berbeda
Dari segi usia dan sejarah pahit masa-masa pra dan pasca kemerdekaan, Indonesia tidak jauh berbeda dengan Korea Selatan (Korsel).  Indonesia dan Korsel sama-sama menjadi negara miskin setelah lama dijajah. Namun, ada satu hal yang sangat mencolok antara Indonesia dan Korsel pada saat itu (dan sekarang). Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam dan tanah yang subur, sementara Korea sangat miskin dengan sumber daya alamnya. Dalam kondisi yang bertolakbelakang ini, ternyata dalam beberapa dekade kemudian justru Indonesia tertinggal jauh dibanding Korea. Bukan sebaliknya…..
Dari awalnya adalah negara pertanian tradisional paling miskin, Korsel bangkit menjadi negara industri modern  yang disegani dunia. Bayangkan, diawal-awal Korsel harus bergantung pada utang luar negeri hanya sekadar bertahan, bukan berkembang. Saking begitu miskinnya, AS juga sampai memutuskan mengurangi bantuan karena mengira Korsel tidak akan pernah bisa tumbuh.
Dalam beberapa dekade kemudian, Korsel mencetak prestasi yang sangat luar biasa sekaligus menjungkirkan semua pandangan rendah terhadap bangsa Korea. Pada saat yang sama, bangsa Korea bertekad untuk menyalip negara yang pernah menjajah dan negara yang pernah memandang sebelah mata. Perihnya penjajahan Jepang membuat bangsa Korea harus mengalahkan bangsa Jepang (dalam pengertian soft-power). Ditambah dengan sikap AS yang awalnya memandang rendah justru membuat bangsa Korsel bangkit dan sadar bahwa hanya kebijakan radikal dan semangat kebangsaan tinggi (atau istilah Bung Karno : national and character building) yang bisa membebaskan perekonomian dari stagnasi dan kemiskinan.
Indonesia yang kaya dengan sumber daya dan hasil alamnya, meskipun merdeka pada tahun yang sama dengan Korea, bangsa Indonesia ternyata tertinggal sangat jauh 4 dekade kemudian. Selama kurun 1960-1990, Korsel merupakan termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. Tahun 1988 (43 tahun kemerdekaan), Korsel sukses menjadi tuan rumah Olimpiade Dunia 1988. Memasuki tahun 1990-an, Korea semakin menunjukkan eksistensinya menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia yang tinggi.
Dan hingga saat ini, Korsel telah mengalahkan banyak negara dunia termasuk Eropa. Korsel menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke-15 terbesar dunia dan keempat di Asia setelah Jepang, China dan India. Korsel menjadi salah satu negara eksportir barang manufaktur berteknologi tinggi utama, mulai dari elektronik, mobil/bus, kapal, mesin-mesin, petrokimia hingga robotik.
Salah satu kekuatan ekonomi Korsel digerakkan oleh sistem jaringan. Bila bangsa China menggunakan akar jaringan rantau yang berbasis pada klan/marga, dialek, lokalitas, perhimpunan dan terpenting kepercayaan. Bangsa Korea juga menerapkan akar jaringan yang sama yakni kepercayaan yang lebih dikenal dengan Chaebol. Jaringan Chaebol Korea merupakan konglomerasi korporasi raksasa yang menguasai ekonomi Korea. Chaebol didukung oleh keluarga, namun berbeda dengan Keiretsu di Jepang atau Grupo di Amerika Latin,  para pemimpin Chaebol hampir tidak pernah memegang posisi resmi/legal chaebol yang dipegangnya. Diantara konglomerasi Chaebol adalah korporasi raksasa Samsung, LG, Hyundai-Kia dan SK.



ngka-Angka Fantastis Ekonomi Korea
Diawal tahun 1960-an, ekonomi bangsa Indonesia tidak jauh berbeda dengan  Korea. Pada saat itu,perndapatan per kapita negara Korsel dan Indonesia dibawah US 100 dolar. Indonesia dengan pendapatan per kapita sekitar USD 70 dan Korea USD 80 per kapita.  Lima puluh tahun kemudian, income per kapita bangsa Korea Selatan naik menjadi USD 19.000, sementara Indonesia baru menyentuh USD 2.200. Pendapatan per kapita Korsel naik 235 kali lipat dan Indonesia hanya naik 1/8-nya atau naik 31 kali.
Ini berarti, rata-rata rakyat Korsel mengalami peningkatan pendapatan 490% per tahun, sementara kenaikan pendapatan rata-rata rakyat Indonesia hanya 64% per tahun. Angka ini tentu tidak menunjukkan realitas yang sesungguhnya, karena baik Korea maupun Indonesia masih memiliki Indeks Gini yang tinggi (perbedaan antara si kaya dan miskin).
Berikut beberapa angka fantastis dari negeri Korea Selatan :
•    Negara dengan kenaikan PDB lebih 400 kali lipat dari USD 2,3 miliar (1962) menjadi USD 930 miliar (2008 )
•    Negara dengan kenaikan Income per capita 23500% dari USD 80 (1962) menjadi USD 19.000 (2008 )
•    Negara produsen terbesar dibidang perkapalan (sumber). Salah satu produk fenomenal dari industri perkapalan Korea adalah Kapal MS Oasis of the Seas. MS Oasis ini merupakan kapal penumpang terbesar dunia. Kapal ini dibuat oleh perusahaan Korsel STX Europe. Termasuk Kapal Perang RI (Sumber).
•    Negara produsen terbesar ke-3 dibidang semikonduktor.
•    Negara produsen terbesar ke-4 dibidang digital elektronik.
•    Negara produsen terbesar ke-5 masing-masing dibidang otomotif, baja, tekstil dan petrokimia.
•    Negara dengan akses internet tercepat di dunia (12 Negara Internet Tercepat Dunia)
•    Kekuatan ekonomi ke-4 terbesar di Asia setelah Jepang, China dan India. Didunia Korsel menduduki peringkat ke-15.
•    Negara eksportir terbesar ke-11 dunia.  Atau menduduki eksportir terbesar ke-3 Asia setelah China (2 dunia)  dan Jepang (4 dunia). Sementara Indonesia berada di peringkat 31.
•    Negara dengan 97% eskpor merupakan produk manufaktur berteknologi tinggi.
•    Negara dengan cadangan devisa terbesar ke-4 dunia.
•    Negara dengan pertumbuhan ekspor rata-rata 30% selama 3 dekade. Nilai ekspor naik dari 3% GDP (1962) menjadi 37% GDP (2000)
•    Negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) tinggi. Peringkat 26 dari 180 negara. Sementara HDI Indonesia berada di peringkat 111 dan lain-lain.
Belajar dari Kunci Sukses Korea Selatan
Bagaimana dari negara miskin sumber daya, Korsel bisa membangun kekuatan industri yang begitu dahsyat? Kasus Korsel menunjukkan kunci sukses suatu pembangunan ekonomi bukan terletak pada ada atau tidaknya SDA, tetapi pada ada tidaknya kemauan dan kemampuan manusianya, terutama level pemimpinnya, dan pada pilihan pilihan strategi kebijakan (Sri Hartati Samhadi).
Menurut ekonom Korea Institut for International Economic Policy, Chuk Kyo Kim,  keberhasilan Korea Selatan dapat tidak lepas dari perhatian besar pemerintah Korsel pada pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta investasi agresif di kegiatan penelitian dan pengembangan.
Disamping faktor besar dari pemerintah, kesuksesan Korsel juga tidak lepas dari pembangunan karakter dan kebangsaan rakyat Korsel yang tangguh. Tumbunya jiwa kewiraswastaan, tenaga kerja yang sangat terlatih, pengelolaan utang luar negeri yang baik, pemerintahan yang relatif bersih, makroekonomi yang solid, dan kondisi sosial-politik yang relatif bebas dari konflik.
Keberhasilan Korsel jelas didukung budaya kerja keras dan etos kerja yang tinggi. Orang Korsel dikenal sebagai pekerja keras, dengan jam kerja jauh lebih panjang dibandingkan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) lain. Faktor lain adalah adanya kemitraan kuat antara pemerintah, swasta dan masyarakat, serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan tantangan baru.
Dari sisi strategi kebijakan, dari awal penguasa Korsel menyadari pentingnya mengembangkan sektor generatif. Hal itu meliputi sektor-sektor ekonomi unggulan yang secara simultan bisa menjadi sumber akumulasi kapital dan memungkinkan terjadinya pertumbuhan berbagai industri turunan dan industri terkait, sekaligus sumber inovasi teknologi dan kelembagaan, seperti pada kasus industri baja dan industri pembuatan kapal.
Industri baja yang kuat menjadi katalis bagi tumbuhnya industri otomotif, pembangunan kapal, peti kemas, jalan raya, konstruksi, dan industri perlengkapan rumah tangga, yang saling mendukung dan memperkuat. Sementara itu, industri pembuatan kapal melahirkan industri rekayasa elektrik, elektronik, kimia, material, dan mekanis.
Jadi, selain “political will” pemerintah Korsel yang tinggi terhadap pembangunan bangsanya, mentalitas rakyat Korea sudah terbentuk dengan bangga dan cinta menggunakan produk lokal. Orang Korea paling benci menggunakan produk dari negara yang pernah menjajahnya yakni Jepang. Untuk menggunakan produk canggih, secara bertahap dan mandiri, mereka memproduksi sendiri. Karakter bangsa yang cinta akan produk dalam negeri ini membuat perusahaan-perusahaan raksasa Korea jaya didalam negeri sekaligus bertahap jaya di luar negeri.
Produk-produk Samsung Electronics, POSCO, Hyundai Motor, KB Financial Group, Shinhan Financial Group, Samsung Life Insurance, Korea Electric Power, LG Electronics, Hyundai Mobis, LG Chem menjadi pilihan utama warga Korea. Produk-produk perusahaan Korea dapat ditemukan disetiap sisi jalan (mobil dan motor), setiap individu (ponsel, kamera), setiap rumah (televisi, mesin cuci, AC, rice cooker dll).


Perbedaan Mencolok
Itulah pesan yang pernah saya terima dari Pak Shidiq G, salah satu rekan kita yang saat ini menjadi TKI di Korea Selatan (perusahaan LG). Dalam beberapa kesempatan beliau bercerita kepada saya bagaimana perhatian pemerintah Korea, dan bagaimana pola hidup masyarakat di Korea. Pak Shidiq sudah hampir 5 tahun berada di Seoul Korea (3 tahun + 2 tahun terakhir). Dalam salah satu pesannya, beliau begitu ‘iri’ dengan budaya dan perkembangan Korea Selatan yang begitu pesat bila dibanding dengan Indonesia.
Berikut beberapa ‘pesan’ yang ingin disampaikan Pak Shidiq sebagai bahan renungan kita dalam membangkitkan industri lokal dengan turut serta mencintai produk lokal.
1.    Orang Korsel membeli mobil Hyundai, KIA, Daewoo atau Sangyong sebagai kendaraannya. Hanya sedikit sekali yang membeli Toyota, Honda, BMW, Mercy  atau yang lainnya.
2.    Orang Korsel membeli dan memakai HP bermerek Samsung atau LG. Sangat sedikit sekali saya melihat orang Korsel yang menggunakan Motorola, Soni atau Nokia. (Catatan tambahan : Samsung dan LG saat ini masing-masing menduduki peringkt 2 dan 3 produksi ponsel terbesar dunia setelah Nokai)
3.    Orang Korsel membeli motor yang bermerek Daelim, Hyosung. Jarang sekali ditemukan motor bermerek Honda, Yamaha, Suzuki atau Harley.
4.    Dirumah-rumah orang Korsel dipenuhi perabotan elektronik bermerek Samsung dan LG. Baik TV, DVD, mesin cuci, kulkas, komputer, heater, AC, hingga setrika.
Bagaimana dengan Indonesia?
Dari mobil, motor, ponsel dan peralatan elektronik hampir 95% adalah produk-produk asing. Cobalah kita lihat produk-produk yang kita pakai selama ini, sebagian besar adalah dari produk luar. Meskipun kita telah sama-sama merdeka dengan Korea Selatan sejak 1945, meskipun sumber daya alam kita lebih kaya daripada Korsel, ternyata bangsa kita sangat antusias menggunakan  mobil Toyota, Honda, Nissan, Daihatsu, BMW, Hyundai, Mercy.
Menggunakan HP bermerek Nokia, Sony Ericsson, Motorola, Samsung, LG, Haier, ZTE dll. Dan dijalan-jalan kita  bangga menggunakan motor bermerk Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, atau motor China.  Sampai dirumah, kita bangga dengan hampir semua perabotan elektronik rumah kita yang merupakan merk-asing. Kita bangga dengan produk LG, Sony, Toshiba, Samsung. Sementara produk-produk buatan bangsa Indonesia seperti Polytron masih mendapat porsi yang kecil oleh masyarakat kita.
Apa yang dapat kita petik dari kedua kondisi diatas? Pertama adalah mental bangsa kita yang lebih menghargai negara asing bahkan negara mantan penjajah. Berbeda dengan bangsa Korea yang berjuang mati-matian untuk memajukan bangsanya agar dapat menyalip kesuksesan negara yang pernah menjajahnya yakni Jepang atau negara-negara yang pernah melecehkannya seperti Amerika. Kedua adalah peran besar pemerintah dalam pendidikan, pengembangan sumber daya serta investasi yang besar dalam industri teknologi. Inilah yang dulunya dirancang Pak Habibie dalam membawa Indonesia maju kedepan. Sayang rencana besarnya kandas ketika krisis 1997 menghantam Indonesia.
Dan perlu kita lihat dan pelajari bahwa cara mereka ‘melawan’ atau ‘membenci’ negara asing yang pernah merugikan negaranya bukan dengan aksi kekerasan, perusakan, penghinaan ideologi, atau usaha-usaha hard-power. Namun semuanya dilawan dengan cara-cara yang sangat elegan yakni soft-power. Cara paling sederhana adalah mereka malu menggunakan produk Jepang, disisi lain mereka bercita-cita untuk mengalahkan Jepang. Mereka tidak akan mengalahkan Jepang dengan kekuatan senjata, tetapi mengalahkan Jepang dalam persaingan bisnis, industri dan ekonomi.
Mestinya kita bisa belajar dari bangsa Korea. Musuh utama kita adalah negara-negara asing yang telah menjajah negara kita, yang telah berusaha membela-bela bangsa kita dengan gerakan separatis dan adu domba, maka saatnya bangsa kita bangkit untuk setiap saat memikirkan cara-cara memajukan bangsa. Sambil bekerja dan berinovasi, bangsa kita harus malu menggunaan produk-produk negara ‘jahat’. Kita harus mulai malu menggunakan produk negara Jepang yang pernah 3.5 menjajah Indonesia, SPBU Shell yang negaranya menjajah 350 tahun Indonesia, Amerika Serikat yang berkali-kali membantu pemberontakan PRRI/Semesta dan sejumalah konspirasi lain atau produk Air Asia atau XL dari negeri jiran Malaysia. Dan masih banyak lagi.
**************
Kemajuan ekonomi dan perindustrian Korsel tidak lepas dari penguasaan bangsa Korea dalam industri manufaktur yang berkembang menjadi riset-pengembangan. Penguasaan industri ini lalau didukung penguasaan pasar lokal oleh bangsanya sendiri. Dengan lakunya produk-produk yang diproduksi perusahaan lokal berarti perusahaan lokal akan terus maju dan berkembang menjadi besar bahkan raksasa. Hal ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan pekerjaan. Hasil pertumbuhan industri dan ekonomi digunakan untuk kemakmuran bangsa Korsel.  Sehingga sangatlah wajar Pak Shidiq bercerita bahwa ‘sangat mudah mencari pekerjaan di Korea Selatan” dibanding di Indonesia. Penyebabnya sangat jelas, saat ini bangsa Korsel adalah bangsa penghasil, sementara saat ini bangsa Indonesia adalah bangsa pemakai.
Maukah kita selamanya menjadi bangsa pemakai??

Belajar budaya orang lain

Ketika browsing ketemu di sitenya pak Romi Satria Wahono tentang sukses bangsa jepang, karena tertariknya artikel ini sebagai evaluasi diri ga bosen bosenya di baca lagi....

Free image hosting Piczasso!


Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh
1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini
7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).
8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.
Tetap dalam perdjoeangan !